Monday, 6 April 2015

Pengembangan Diri



Mengenali Diri Dan Mengembangkan Kepribadian

Mengenali Diri 

GloriaNet - Setiap manusia normal cenderung mengharapkan dirinya berkembang menjadi lebih baik lagi, apa pun profesinya.
W Stern mengemukakan Teori Konvergensi yang mengatakan kepribadian manusia tebentuk sebagai hasil interaksi dari nature dan nurture. Jadi, hasil interaksi dari potensi yang dimiliki manusia dan seberapa besar lingkungan mempengaruhi perwujudan potensi yang dimiliki.

Kalau berbicara mengenai "potensi", kita tidak bisa berbuat banyak, karena potensi manusia memang sudah terberi. Yang dapat diupayakan adalah usaha untuk mengembangkanpotensi yang ada agar berfungsi sesuai dengan peran yang harus kita jalankan.

Dalam hal ini, Harry Ingham dan Joseph Luft dalam Johari Window-nya (nama Johari berasal dari Joseph Luft dan Harrington Ingham) menyatakan bahwa manusia memiliki empat daerah pengenalan diri yaitu:
1.                  Diri terbuka
2.                  Diri terlena
3.                  Diri tersembunyi
4.                  Diri yang tidak dikenal siapa pun. 

Keempat hal di atas digambarkan sebagai berikut. 

Bidang 1: Diri terbuka
Bagian diri yang disadari oleh diri sendiri dan ditampilkan kepada orang lain atas kemauan sendiri. Misalnya perasaan, pendapat dan pikiran yang dipilih untuk disampaika kepada orang lain. Juga hal-hal yang tidak dapat ditutupi terhadap orang lain, seperti muka, bentuk badan, umur yang tampak pada keadaan badan (tua, muda). 

Bidang 2: Diri terlena
Bagian diri yang tanpa disadari diri sendiri, tertutup terhadap dirinya, tetapi tersampaikan kepada orang lain atau diketahui oleh orang lain. Misalnya kebiasaan-kebiasaan, sifat-sifat, dan kemampuan tertentu yang tidak disadari ada pada diri sendiri, yang sering berpengaruh (positif atau negatif) dalam berhubungan dengan orang lain (misalnya sering membuat interupsi, kurang memperhatikan perasaan orang lain, senang membantah, membanggakan diri, dan sebagainya).

Bidang 3: Diri tersembunyi
Bagian diri yang disadari oleh diri sendiri, tetapi secara sadar ditutup-tutupi atau disembunyikan terhadap orang lain. Mungkin juga orang tidak tahu bagaimana menyampaikan dirinya kepada orang lain (misalnya tidak setuju tentang pendapat orang lain, tetapi tidak dapat menyampaikan hal itu), atau karena kalau disampaikan akan membuat malu dirisendiri, misalnya perasaan ketidakpastian, keinginan yang rahasia, dan sebagainya.

Bidang 4: Diri yang tak dikenal oleh diri sendiri dan oleh orang lain.
Bagian diri yang tidak dikenal diri sendiri dan orang lain ini berupa motif, kebutuhan yang tidak disadari, terlupakan atau didesak ke bawah sadar sehingga tidak dikenal lagi dan masih mempengaruhi tindakan orang dalam berhubungan dengan orang lain.

Untuk dirinya perlu dikembangkan kepercayaan dengan jalan membuka diri terhadap pendapat, perasaan, dan pikiran orang lain, artinya membuka jalan bagi orang lain untuk memberikan umpan balik kepada dia sehingga bidang diri terbuka  melebar dan akan timbul perbaikan dalam hubungan dengan orang lain. 

Mengenali diri maksudnya adalah memperoleh pengetahuan tentang totalitas diri yang tepat dengan menyadari segi keunggulan yang dimiliki maupun segi kekurangan-kekurangan yang ada pada diri.

Umpan balik 
Umpan balik merupakan proses di mana seseorang memberi tahu berdasarkan pengamatan dan perasaannya tentang tingkah laku seseorang guna membantu perkembanganpribadi orang itu.

Beberapa hal yang bisa dijadikan pegangan sebagai upaya perubahan sikap adalah memiliki motivasi kuat untuk berkembang, memiliki antusiasme dengan cara berpikir positif, bersedia belajar meyakini dan menghargai kemampuan diri, berupaya meningkatkan kemampuan untuk mendapatkan apa yang menjadi tujuan diri sendiri, berupaya tidak membiarkan perkecualian terjadi, sebelum kebiasaan baru berakar pada kehidupan, dan bersikap rajin berlatih pada setiap kesempatan diperoleh.

Pengembangan Kepribadian

Kecuali modal pegangan tersebut diatas, untuk mengembangkan diri perlu dipertimbangkan juga faktor di bawah ini.
  1. Faktor penghambat yang berasal dari lingkungan.
Sistem yang dianut. Kadang-kadang sistem yang berlaku dalam lingkungan kita, apakah dalam pekerjaan pendidikan atau lingkungan sosial di mana kita berada, tanpa disadari menghambat pengembangan diri kita, misalnya diberlakukannya sistem senioritas dalam jenjang jabatan di mana kita bekerja. Tanggapan atau sikap/kebiasaan dalam lingkungan kebudayaan. Kadang-kadang tradisi atau kebiasaan yang berlaku menghambat perwujudan dari perkembangan diri seseorang.
  1. Faktor penghambat yang berasal dari diri individu sendiri.
Faktor tujuan hidup yang tidak/belum tergambar dengan jelas. Faktor motivasi dan faktor keengganan untuk menelaah diri. Kadang-kadang manusia takut untuk menerima kenyataan bahwa ia memiliki kekurangan ataupun kelebihan padadirinya. 
Faktor usia. Kadang-kadang orang yang sudah tua dalam usia tidak melihat bahwa kearifan dan kebijaksanaan dapat dicapainya. Mereka cenderung memandang bahwa usiamuda lebih hebat karena produktif.

Citra Profesional

Kata “Profesional” sudah dikenal di kalangan masyarakat luas. Namun, pengertian yang muncul seolah-olah hanya ditujukan bagi kalangan manajer. Padahal, sesungguhnya istilah “Profesional” berlaku untuk semua kalangan, dari tingkat atas sampai ke tingkat paling bawah. Secara sederhana “Profesional” dapat diartikan sebagai suatu kemampuan dan ketrampilan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan menurut bidang dan tingkat masing-masing, dalam situasi dan kondisi apapun, serta bersifat terus-menerus. Hasil dari pekerjaan yang dilaksanakan itu, bila ditinjau dari semua sisi sudah sesuai dengan porsi, objektif, dilaksanakan tepat waktu atau dengan jangka waktu yang relatif singkat. Sempurnanya hasil pekerjaan, selain pelayanan dan perilaku yang diberikannya, menyebabkan sulitnya pihak lain untuk mencari-cari celanya. Personel yang semacam ini, di dalam organisasi di sebut “Tenaga Profesional”.

Seseorang atau tenaga “Profesional” tidak dapat dinilai dari satu segi saja, tetapi harus dari segala segi. Selain keahlian dan ketrampilan yang dimiliki, juga perlu diperhatikan sikap dan mentalitasnya. Jadi, “Seorang Profesional” adalah seseorang yang memiliki keahlian dan ketrampilan, juga sikap mental dan tingkah laku yang terpuji. Segala sesuatu yang dihasilkan dari perbuatan dan pekerjaannya dijamin berada dalam kondisi terbaik dan mendapat penilaian yang objektif dari semua pihak.

Citra (image) adalah gambaran atau potret diri Anda. Apa yang Anda kenakan, Apa yang Anda katakan, apa yang Anda kerjakan, dan apa yang menjadi prinsip hidup Anda, dapat membentuk kesan keseluruhan mengenai diri Anda. Citra (image) di abad modern atau era globalisasi ini, memegang peranan penting dalam menunjang keberhasilan seseorang. Bahkan, kemampuan dan profesionalisme seseorang bisa tercermin dari cara mereka berpenampilan, baik dalam perilaku maupun sikap.

Citra adalah refleksi Anda yang paling nyata, dan yang dapat memperlihatkan apa yang terjadi di dalam diri Anda. Bila Anda mempunyai keinginan untuk dapat menaklukkan dunia, hal itu tampak. Bila Anda merasa dunia mungkin saja menaklukkan Anda, itupun akan terlihat. Citra bukanlah sesuatu yang palsu. Citra adalah kesan tentang diri Anda yang dibentuk oleh orang lain ketika pertama kali bertemu dan melihat Anda. Begitupun Anda, membentuk kesan yang sama mengenai orang lain setiap hari. Ketika orang bertemu dengan Anda, kesan yang mereka bentuk mungkin sama persis dengan kesan yang Anda ingin mereka rasakan. Atau mungkin juga berlawanan dengan apa yang Anda maksudkan.Dalam dunia bisnis, citra diri Anda akan sangat menentukan langkah Anda selanjutnya. Apakah Anda akan segera memperoleh pekerjaan, atau disingkirkan pada wawancara pertama. Apakah Anda ditanggapi secara serius atau hanya dianggap sebagai kelas teri, ataukah dapat maju dan bertahan dalam pekerjaan yang sama.

Jadi kesimpulannya citra profesional  adalah gambaran tentang keprofessionalan Anda. Seorang yang memiliki professional citra profesional adalah seseorang yang memiliki keahlian dan ketrampilan, juga sikap mental dan tingkah laku yang terpuji. Segala sesuatu yang dihasilkan dari perbuatan dan pekerjaannya dijamin berada dalam kondisi terbaik dan mendapat penilaian yang objektif dari semua pihak.
Citra Profesional merupakan gabungan tiga persepsi :
  1. Cara Anda memandang diri sendir dari dalam,memendang ke luar
  2. Cara Orang lain memendang Anda dari luar ,memandang ke dalam
  3. Cara Anda ingin memendang diri sendiri dan di pandang

Yang Mempengaruhi professional Image

Seseorang atau tenaga “Professional”tidak dapat dinilai dari satu segi saja, tetapi harus dari segala segi. Selain keahlian dan ketrampilan yang dimiliki, juga perlu diperhatikan sikap dan mentalitasnya diantara lain:
  1. Cara Berbicara
Berbicara adalah penyampaian infomasi secara lisan, melalui ucapan kata kata atau kalimat. Dapat dikatakan bahwa berbicara adalah suatu usaha untuk mengungkapkan suatu perasaan, gagasan, ide perasaan dengan ucapan, kata atau kalimat. Untuk mengunkapkan suatu perasaan, gagasan atau ide dapat pula melalui bahasa badan ( body language) yaitu dengan cara ekspresi, garakan, isyarat, ekspresi wajah, pandangan mata dan sebagainya.

Cara Berbicara Di Depan Umum
Dalam berbicara di depan umum diperlukan teknik  teknik untuk menyampaikan informasi. Dalam berbicara pasti menemukan kendala kendala yang sering muncul dalam diri sendiri, seperti malu, canggung, kurang percaya diri dan lain lain.
Beberapa cara untuk mengatasi agar mampu mengatasi keadaan di depan umum untuk menyampaikan gagasan, ide, pikiran, antara lain:
a.       Percaya diri
b.      Kuasa materi
c.       Volume suara
d.      Kontak mata
e.       Santai
f.       Semangat
g.      Penuh gaya
h.      Variasi kata
i.        Kalimat yang ringkas
j.        Imajinatif
k.      Penuh humor
l.        Tersenyumlah

  1. Cara Berbusana
Penampilan adalah bagian dari gambaran atau cermin dari kepribadian seseorang. Maka ketika seseorang berpenampilan rapi dalam berpakaian, hal tersebut menunjukkan bahwa orang tersebut menaruh perhatian dengan dirinya.

Beberapa Cara Membangun Citra Diri Positif

  1. Persiapan
Salah satu cara membangun citra diri positif adalah melalui persiapan. Dengan persiapan yang cukup, kita menjadi lebih yakin akan kemampuan kita mengenai sesuatu. Keyakinan merupakan modal dasar meraih keberuntungan. Dengan melakukan persiapan, kita sudah berhasil memenangkan separuh dari pertarungan. Persiapan menuntun kita untuk mengantisipasi masalah, mencari alternatif solusi, dan menyusun strategi. Wujud persiapan adalah belajar atau mencari ilmu. Persiapan juga bisa melalui latihan.
  1. Berfikir Unggul
Dengan berfikir unggul akan mendorong kita senantiasa berusaha menghasilkan yang terbaik. Berfikir unggul sama saja berfikir tentang kemenangan. Jadi jangan berfikir tentang kekalahan. ( You are what you think)
  1. Belajar Berkelanjutan
Membangun citra diri yang positif melalui komitmen pada belajar berkelanjutan. Hasil belajar akan meningkatkan nilai bagi orang yang berhasil mendapatkan pengetahuan ataupun keterampilan baru. Seringkali orang yang berada pada tingkat atas merasa tidak perlu belajar lagi. Hal ini tentu akan menurunkan tingkat keberhasilan, sehingga perlu belajar berkelanjutan.
  1. Lakukan Perubahan Terhadap  Diri  Kita
Kesuksesan dan citra diri tidak akan datang dengan sendirinya, melainkan kita harus mengupayakannya dengan sungguh-sungguh. Seperti dikatakan oleh Tuhan, bahwa Dia tidak akan mengubah nasib manusia kalau manusia itu sendiri yang tidak melakukan perubahan. Oleh karena itu, mulailah pada saat ini di titik ini untuk terus melakukan perubahan dan pembenahan pada diri kita, sehingga orang akan memberikan padangan positif terhadap diri kita dan kita pun senang karena bisa memaksimalkan segala potensi yang ada.
  1. Miliki Prosperity Consciousness
Suatu kesadaran bahwa kekayaan di bumi ini begitu melimpah. Banyak sumber-sumber untuk semua orang apabila kita mampu membuka pikiran dan sikap kita terhadap peluang dan kesempatan yang tersebar di mana-mana. Kemiskinan hanya terletak dalam pikiran kita, karena kita merasakan keterbatasan dalam pikiran   tersebut.
  1. Dengan Berpositif Thinking
Yakinlah bahwa Anda sangat baik dan tidak akan ada hari buruk yang akan Anda lalui, yang ada Anda akan mendapati hari-hari dengan penuh menyenangkan. Yakinlah pada Tuhan, bahwa Tuhan selalu bersama Anda dalam keadaan susah maupun senang. Sebenarnya semua hal buruk bukan disebabkan karena situasi tapi karena respon kita terhadap diri sendiri dan situasi tersebut. Lakukan afirmasi positif, katakan pada diri Anda bahwa Anda adalah orang baik, orang yang berharga. Dengan begitu satu langkah Anda akan mengawali hidup dengan sebuah pikiran yang positif. Dan Insya Allah ini akan membuat Anda lebih lebih positif dalam melihat diri dan situasi yang ada di sekitar Anda.
  1. Bergaul Dengan Pribadi Positif
Ciptakan sistem dukungan, caranya luangkan waktu dengan teman, kerabat, keluarga yang mampu memberikan pengaruh positif pada diri Anda. Ajak orang-orang positif ini untuk olahraga bersama, mencoba resep sehat baru, dan berikan dukungan satu sama lain terutama jika terjadi perubahan signifikan.
  1. Belajar Untuk Mengendalikan Emosi
Emosi yang terkendali dengan baik, dapat meningkatkan rasa pede anda. Dengan emosi yang terjaga, anda lebih mudah melakukan tugas apapun dengan lebih baik. Anda yakin apapun yang akan anda hadapi dapat anda selesaikan semaksimal mungkin. Dan tentu saja hal tersebut sangat diperlukan dalam dunia kerja    bukan?
  1. Terus Belajar, Belajar Dan Belajar
Perubahan terjadi dengan dinamis di semua aspek kehidupan. Anda akan terus berada dalam dunia yang penuh tuntutan. Jangan cepat merasa puas dengan apa yang telah anda raih dan anda miliki. Tambahlah wawasan dan kuasailah teknologi yang sekiranya dapat menunjang pelaksanaan kerja agar lebih optimal. Terus ingatkan diri anda untuk senantiasa meningkatkan kemampuan diri dengan belajar mandiri mengenai bidang kemampuan yang sedang digeluti.
  1. Menyikapi Kegagalan Dengan Bijak
Cobalah untuk meminta masukan dari rekan yang selama ini telah bekerja sama dengan anda. Cari tahu juga mengenai bagaimana kinerja anda di mata atasan. Siapa tahu ada beberapa saran yang patut anda petimbangkan demi kemajuan karir. 

Manfaat Membangun Citra Diri Yang Positif

Banyak ahli percaya bahwa orang yang memiliki citra positif adalah orang yang beruntung. Citra diri yang positif membuat mereka menikmati banyak hal yang menguntungkan antara lain :
  1. Membangun   Percaya Diri
Citra diri yang positif secara alamiah akan membangun rasa percaya diri, yang merupakan salah satu kunci sukses. Orang yang mempunyai citra diri positif tidak akan berlama – lama mengisi nasibnya yang sepertinya terlihat buruk. Citra dirinya yang positif mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang masih dapat ia lakukan. Ia akan fokus pada hal – hal yang masih bisa dilakukan, bukannya pada hal – hal yang sudah tidak bisa ia lakukan lagi. Dari sinilah terdongkrak rasa percaya diri orang tersebut.
  1. Meningkatkan Daya Juang
Dampak langsung dari citra diri positif adalah semangat juang yang tinggi. Orang yang memiliki citra diri positif, percaya bahwa dirinya jauh lebih berharga daripada masalah, ataupun penyakit yang dihadapinya. Ia juga bisa melihat bahwa hidupnya jauh lebih indah dari segala krisis kegagalan jangka pendek yang harus dilewatinya. Segala upaya dijalaninya dengan tekun untuk mengalahkan masalah yang sedang terjadi dan meraih kembali kesuksesan yang sempat. Inilah daya juang yang lebih tinggi yang muncul dari orang yang bercitra diri positif.
  1. Membawa Perubahan Positif
Orang yang memiliki citra diri positif senantiasa mempunyai inisiatif untuk menggulirkan perubahan positif bagi lingkungan tempat ia berkarya. Mereka tidak akan menunggu agar kehidupan menjadi lebih baik, sebaliknya mereka akan melakukan perubahan untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik.
  1. Mengubah Krisis   Menjadi Keberuntungan
Selain membawa perubahan positif, orang yang memiliki citra diri positif mampu mengubah krisis menjadi kesempatan untuk meraih keberuntungan. Citra diri positif mendorong orang untuk menjadi pemenang dalam segala hal. Menurut orang – orang yang bercitra diri positif, kekalahan, kegagalan, kesulitan, dan hambatan sifatnya hanya sementara. Fokus perhatian mereka tidak melulu tertuju kepada kondisi yang tidak menguntungkan tersebut, melainkan fokus mereka diarahkan pada jalan keluar.

Pihak-Pihak Yang Berperan Dalam Membangun Citra Positif

Pada dasarnya citra dan potensi diri dapat ditingkatkan dengan terlebih dahulu memperbaiki personality kita. Untuk itu diperlukan kemauan untuk mengevaluasi diri secara jujur dan kemauan untuk terus-menerus belajar.
Pengenalan terhadap rahasia kekuatan personal dan bagaimana memanfaatkannya merupakan elemen dasar peningkatan personality. Adapun langkah selanjutnya adalah usaha untuk mengidentifikasi kekuatan personal kita dan kemungkinan pengembangannya.
Keseluruhan citra diri tidak hanya dicerminkan oleh personality saja, tetapi juga harus dilengkapi dengan sikap profesional yang dihadirkan dalam situasi apapun juga. Agar dapat bersikap sebagai seorang profesional, perlu kiranya memahami dan mengimplementasikan etiket yang diterima dalam masyarakat masa sekarang dan akan datang, baik etiket umum maupun etiket dalam situasi khusus. Selain itu, memahami bagaimana memanfaatkan visual poise dan bahasa tubuh kita akan sangat membantu dalam membangun citra profesional.
Pihak-pihak yang berperan dalam membentuk citra diri positif :
  1. Keluarga
Keluarga sangat berperan penting dalam pembentukan citra diri seseorang, terutama orang tua dalam hal keturunan yaitu : tubuh, kecerdasan, watak, pola pendidikan.
  1. Masyarakat
Media-media yg menyediakan berbagai macam informasi serta norma yg berlaku di masyarakat umum mempengaruhi pola pikir dan perilaku kita yang berdampakpada pembentukan konsep diri.
  1.  Teman Sebaya
Ungkapan-ungkapan yg digunakan dalam perlakuan & penilaian oleh teman menjadi acuan dalam menilai diri sendiri. Perbedaan-perbedaan antar pertemanan sering menjadi tolak ukur yg penting dlm menbangun konsep diri.
  1. Pengalaman dalam kehidupan
Pengalaman dalam kehidupan selanjutnya, misalnya: pengalaman berhasil atau gagal, dicintai atau dijauhi orang.







PSIKOLOGI & AGAMA BUDDHA
Dalam Perspektif Kepribadian Yang Sehat


Pendahuluan 

Perkembangan sains dan teknologi yang sangat pesat selama kurun waktu satu abad terakhir membuat sebagian umat Buddha bertanya-tanya bagaimana sebenarnya posisi agama Buddha dalam kacamata sains. Sesungguhnya, agama Buddha mempunyai peranan besar dalam bidang psikologi. Dikatakan bahwa agama Buddha adalah sains mengenai pikiran. 
Di dalam kitab Abhidhamma Pitaka dijelaskan secara terperinci mengenai berbagai macam kondisi pikiran dan kategori kesadaran. Banyak neuroscientist dan psikoterapist terkemuka menjadi pelopor dalam mempelajari agama Buddha untuk digunakan dalam studi seperti terapi untuk gangguan tidur, penyembuhan terhadap pemikiran dan bentuk-bentuk mental yang negatif, pemahaman terhadap proses terjadinya mimpi, tidur, dan proses kematian.
Berikut ini penulis sedikit mengulas mengenai kepribadian yang sehat menurut pandangan Barat (psikologi) dan pandangan Timur (agama Buddha), berikut ini: 

Pandangan Barat 
Apakah kepribadian yang sehat itu? Beberapa ahli teori ilmu psikologi Barat mengemukakan bahwa persepsi kita mengenai diri dan dunia sekitar kita harus objektif; ahli-ahli lain mengemukakan bahwa orang-orang yang sehat memakai pandangan subjektif mereka sendiri tentang kenyataan sebagai dasar untuk tingkah laku. Yang lainnya mengemukakan bahwa kita tidak dapat menjadi sehat secara psikologis tanpa sungguh-sungguh melibatkan diri dalam suatu pekerjaan; atau soal tanggung jawab terhadap orang lain.
Orang yang sehat secara psikologis mengontrol kehidupan mereka secara sadar. Walaupun tidak secara rasional, orang yang sehat mampu secara sadar mengatur tingkah laku mereka dan bertanggung jawab terhadap nasib mereka sendiri. Orang yang sehat secara psikologis mengetahui diri mereka siapa dan apa.
Orang-orang seperti ini menyadari kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan, kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan mereka, dan umumnya mereka sabar dan menerima apa adanya hal-hal mereka. Mereka tidak berkeinginan menjadi sesuatu yang bukan mereka. Meskipun mereka dapat memainkan peranan-peranan sosial untuk memenuhi tuntutan dari orang lain atau situasi-situasi, namun mereka tidak mengacaubalaukan peranan-peranan ini dengan diri mereka yang sebenarnya. 
Orang lain umumnya menyetujui bahwa sifat kesehatan psikologis ialah bersandar dengan kuat pada masa sekarang. Meskipun kebanyakan diantara ahli-ahli teori itu percaya bahwa kita tidak kebal terhadap pengaruh-pengaruh masa lampau (khususnya masa kanak-kanak), namun tidak seorangpun mengemukakan bahwa kita tetap dibentuk oleh pengalaman-pengalaman awal. Orang-orang yang sehat secara psikologis hidup di masa sekarang. 
Beberapa ahli teori menekankan suatu pandangan terhadap masa depan sebagai sesuatu yang sangat penting bagi kepribadian yang sehat. Orientasi kita harus ke tujuan-tujuan dan tugas-tugas yang akan datang, tetapi tidak mendorong kita untuk mengganti masa sekarang dengan masa depan. Orang yang sehat secara psikologis tidak merindukan ketenangan dan kestabilan, tetapi merindukan tantangan dan kegembiraan dalam kehidupan, tujuan-tujuan baru, dan pengalaman-pengalaman baru. 
Tidak ada petunjuk untuk kesehatan psikologis yang berlaku sama untuk setiap orang karena kita bukan salinan atau cetakan duplikat satu sama lain. Ada satu hal yang tetap dalam kodrat manusia yang kebanyakan para ahli psikologis sependapat adalah kodratnya yang istimewa; atau khas kita masing-masing adalah unik. Tidak ada pendekatan-pendekatan untuk kesehatan psikologis yang cocok untuk setiap orang, sama seperti satu obat yang tidak akan menimbulkan akibat yang sama, meskipun semua orang yang menggunakannya memiliki penyakit yang sama. Obat itu akan mujarab untuk beberapa orang dan kesehatan mereka akan membaik atau obat itu tidak akan menghasilkan pengaruh pada orang-orang lain, dan berbahaya untuk orang-orang yang lain lagi. 
Pengaruh dari pendekatan-pendekatan bagi kepribadian yang sehat berbeda tidak hanya untuk orang-orang yang berbeda, tetapi juga untuk orang yang sama pada usia yang berbeda.
Nilai-nilai, kekurangan-kekurangan, kebutuhan-kebutuhan, ketakutan-ketakutan, dan harapan-harapan kita berubah luar biasa ketika kita maju dari salah satu tingkat perkembangan ke tingkat perkembangan selanjutnya. Dari masa kanak-kanak ke masa muda, masa remaja dewasa, usia setengah tua, usia tua, kepribadian kita terus berkembang. Apa yang kita butuhkan untuk diri kita pada usia 20 tahun mungkin tidak sesuai lagi pada usia 40 tahun.
Secara ideal, kita tidak pernah berhenti berkembang. Kita mengalami pengalaman-pengalaman baru dan akibatnya kita berubah, jika kita benar-benar terbuka pada dunia. Pakaian, aktivitas-aktivitas, dan nilai-nilai dari usia 17 tahun tidak cocok lagi untuk usia 35 tahun. Apa sebabnya? apakah kita harus sependapat bahwa jalan menuju kepribadian sehat dari anak yang berusia belasan tahun menjadi jalan bagi orang dewasa yang matang? 
Tetapi, bagaimana kita menemukan jalan yang benar pada setiap tingkat pertumbuhan? penulis menduga bahwa kita menemukannya dengan cara yang sama sebagaimana kita pelajari apa yang cocok bagi kita dalam setiap ruang lingkup kehidupan. Kita mencoba gaya-gaya hidup yang berbeda, sejumlah kepercayaan, dan peran-peran sosial untuk melihat bagaimana hal-hal itu cocok dengan kita. Orang-orang yang tampaknya memiliki kesempatan yang sangat besar utnuk mencapai kesehatan psikologis adalah orang-orang yang cukup bebas (cukup aman dengan diri mereka) mengadakan percoabaan dengan petunjuk yang berbeda untuk melihat petunjuk manakah yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari mereka. 
Orang lain dapat menganjurkan jalan yang harus diikuti, tetapi hanya Anda yang dapat mengatakan bagaimana jalan itu berhasil. 
Menurut Dr. Carl Jung, seorang pendiri psikologi analitik dan pelopor psikologi modern, psikologi analitik sangat dekat kaitannya dengan metode agama Buddha yang esensinya terkait dengan masalah asal mula penderitaan, metode untuk mengatasinya, kategori keadaan mental, dan pemahaman yang mendalam mengenai kesadaran.
Mark Epstein, dalam bukunya yang berjudul "Thoughts Without a Thinker" berusaha menggabungkan ilmu psikologi Barat dengan Ajaran Buddha. Ia mengatakan bahwa ingatan-ingatan yang hilang, emosi-emosi yang menyakitkan, pandangan-pandangan khayal, nafsu untuk menghancurkan dapat ditemukan akarnya pada Ajaran Buddha. Dengan ditemukan akarnya, maka Ajaran Buddha menawarkan suatu metode bagi seseorang untuk mencapai kebahagiaan yang sehat. 
Berbeda dengan tipe kepribadian yang sehat yang telah diajarkan oleh Sang Buddha. Kepribadian yang sehat sebagaimana telah diajarkan oleh Sang Buddha di dalam Abhidhamma Pitaka disebut Arahat. Sifat-sifat kepribadian sehat tersebut telah ditransformasikan secara permanent, di mana semua motif, persepsi, perbuatan, yang sebelumnya dilakukan di bawah pengaruh faktor faktor tidak sehat telah lenyap.
Sifat sifat kepribadian yang sehat tersebut meliputi: 
  1. Keterbebasan dari keserakahan, ketakutan, kebencian, pandangan sempit, hawa nafsu, kemarahan dan sifat membeda-bedakan. 
  2. Memiliki sikap-sikap seimbang dalam memandang orang lain, tenang dalam semua keadaan, waspada, keterbukaan, dan kepekaan.
Seorang Arahat memiliki sebuah kemiripan dengan orang-orang yang mengalami aktualisasi diri sebagaimana yang mana ada pada tulisan-tulisan Maslow dan Rogers. 
Namun, kepribadian yang sehat seperti seorang Arahat dianggap terlalu radikal oleh dunia Barat, sangat jauh melampaui objektivitas dan harapan terapi kejiwaan (psikoterapi) di Barat. 
Dilihat dari kacamata para psikolog di dunia Barat, sifat sifat kebajikan tersebut terlalu sulit dan mulia untuk diwujudkan karena menjadi seorang Arahat tidak mungkin hanya dapat terjadi dalam waktu semalam saja tetapi membutuhkan suatu pelatihan bertahap. 
Antara Barat dan Timur dalam hal psikologi dan psikoterapi dapat disimpulkan bahwa metode psikoterapi dan ajaran psikologi di Barat belum mencapai tingkatan yang dituntut di Timur. Medrad Boss, seorang filosof Swiss yang terkenal pernah mengatakan bahwa dipandang dari sudut ajaran-ajaran dan tingkah laku guru-guru Timur; metode- metode dan tujuan-tujuan psikoterapi, psikologi Barat tidaklah memadai.


Menurut Boss, jika dibandingkan dengan tingkat pemurnian diri yang dituntut oleh latihan-latihan dari Timur, maka analisa latihan Barat yang paling baik sekalipun tidak lebih dari suatu kursus pengantar saja bagi timur. 

Gangguan Kepribadian

Gangguan-gangguan dalam kategori ini bersumber dari perkembangan kepribadian yang tidak masak dan menyimpang. Kerena mengalami proses perkembangan yang tidak semestinya, individu-individu tertentu memiliki cara pandang, cara pikir dan berhubungan dengan dunia sekelilingnya secara maladaptif. Akibatnya, mereka tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan dalam kasus-kasus tertentu mereka menjadi menderita.
Ada tiga kelompok gangguan utama dalam kategori ini, yaitu gangguan kepribadian, kepribadian antisosial, dan perilaku kriminal.1. Gangguan Kepribadian
Penderita jenis gangguan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Hubungan pribadinya dengan orang lain terganggu, dalam arti sikap dan perilakunya cenderung merugikan orang lain.
  2. Memandang bahwa kesulitannya disebabkan oleh nasib buruk atau perbuatan jahat orang lain. Dengan kata lain, penderita gangguan ini tidak pernah merasa bersalah.
  3. Tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap orang lain: bersikap manipulatif atau senang mengakali, mementingkan diri sendiri, tidak punya rasa bersalah, dan tidak mengenal rasa sesal bila mencalakakan orang lain.
  4. Celakanya, orang ini tidak pernah dapat melepaskan diri dari pola tingkah lakunya yang maladaptif itu.
  5. Selalu menghindari tanggung jawab atas masalah-masalah yang mereka timbulkan.
Selain itu, gangguan ini lebih merupakan gangguan terhadapa nama baik si penderita (disorders of reputation). Artinya, masalahnya lebih berupa akibat tidak menyenangkan dari tindakan sipenderitan terhadap orang lain, bukan berupa penderitaan yang harus ditanggung oleh yang bersangkutan, seperti misalnya pada kasus neurosis. Dalam kasus neurosis, yang menderita dan merasa tidak bahagia adalah penderita itu sendiri. Sebaliknya dalam gangguan kepribadian ini yang menjadi korban perbuatan tidak bertanggung jawab dari si penderita. Penderita sendiri hanya mengalami reputasi yang buruk, yang bagi penderita gangguan ini sama sekali bukan soal.
Beberapa jenis gangguan kepribadian yang cukup menonjol adalah kepribadian paranoid - schizoid - skizotipe, kepribadian histrionik - narcisitik - antisosial, dan kepribadian aviodan - tergantung - kompulsif - agresif pasif.

  • Kepribadian Paranoid, Skizoid, Dan Skizotipe
Penderita ketiga jenis gangguan ini berperilaku eksentrik, ditambah beberapa kekhususan sebagai berikut:
1.      Kepribadian Paranoid memiliki ciri-ciri tambahan: serba curiga; hipersensitif atau sangat perasa; rigid atau kaku; mudah iri; sangat egois; argumentatif atau suka menentang; suka menyalahkan orang lain; suka menuduh orang lain jahat.
2.      Kepribadian Skizoid memiliki ciri-ciri khas: tidak mampu dan menghindari menjalin hunbungan sosial; terkesan dingin dan tidak akrab atau tidak ramah; tidak terampil bergaul dan suka menyendiri.
3.      Kepribadian Skizotipe memiliki ciri-cri khas: suka menyendiri; suka menghindari oang lain; egosentrik; dihantui oleh pikiran-pikiran autistik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain selain oleh dirinya sendiri, dan takhayul-takhayul; dan amat perasa.

  • Gangguan Kepribadian Historik, Narcisistik, Dan Antisosial
Penderita ketiga jenis gangguan ini memiliki ciri umum berperilaku dramatik atau penuh aksi serba menonjolkan diri, emosional, dan eratik atau aneh-aneh, di samping beberapa ciri khusus sebagai berikut:
1.      Kepribadian Histrionik: tidak matang; emosinya labil; haus akan hal-hal yang serba menggairahkan (excitement); senang mendramatisasi diri secara berlebihan untuk mencari perhatian; penyesuaian seksual dan hubungan pribadinya kacau; tergantung, tak berdaya, dan mudah ditipu; egois, congkak, sangat haus akan pengukuhan orang lain; sangat reaktif; dangkal atau picik, dan tudal tulus.
2.      Kepribadian Narcisistik: merasa diri penting dan haus akan perhatian dari orang lain; selalu menuntut perhatian dan perlakuan istimewa dari orang lain; sangat peka pada pandangan orang lain terhadap dirinya (harga dirinya rapuh); bersikap exploitatif: memikirkan kepentingannya sendir, mangabaikan hak dan perasaan orang lain.
3.      Kepribadian Antisosial: selalu melanggar hak orang lain lewat perilaku agresif, antisosial, dan tanpa rasa sesal; tidak sedikit diantara penderita cukup cerdas dan pandai menampilkna diri secara meyakinkan untuk menjadi penipu ulung.

  • Gangguan Kepribadian Avoidan, Tergantung, Kompulsif, Dan Agrasif Pasif
Penderita dalam kategori ini memiliki ciri umum diliputi kecemasan dan rasa takut, sehingga kadang-kadang susah dibedakan dari penderita neurosis, ditambah ciri-ciri khusus sebagai berikut:
1.      Kepribadian Avoidan tau menghindar: sangat peka terhadap penolakan atau hinaan prng lain; cenderung mudah mempersepsikan olok-olokan atau pelecehan yang belum tentu benar; pergaulan sempit dan segan emnjalin pergaulau; takut bergaul dengan orang lain disebabkan takut untuk dikritik atau ditolak, kendati sering merasa butuh afeksi dari orang lain dan merasa sepi; merasa sedih karena tidak punya teman, dan ketidakmampuan bergaul tersebut menjadi sumber kesusahan dan penyebab harga dirinya yang rendah.
2.      Kepribadian Tergantung: sangat tergantung pada orang lain dan merasa tidak berdaya, kendati sesungguhnya tidak demikian; dapat berfungsi baik sepanjang tidak dituntut melakukan sesuatu seorang diri.
3.      Kepribadian Kompulsif: memiliki perhatian yang berlebihan pada aturan-atiran, ketertiban, efisiensi, dan pada pekerjaan; menginginkan semua orang bekerja seperti dirinya; tidak mampu mengungkapkan sikap dan perasaan hangat; perilakunya serba terhambat, sangat perasa, namun juga sangat rajin; kepribadiannya kaku; sulit untuk bersantai; sangat memperhatikan hal kecil-kecil; dan sangat sulit membagi waktu.
4.      Kepribadian Agresif-pasif. Simtom ini sesungguhnya merupakan sikap bermusuhan yang diungkapkan lewat cara-cara yang bersifat tidak langsung dan bukan melalui kekerasan. Sebagai contoh, untuk mengungkapkan kebenciannya pada majikan yang lalim, seorang pembantu sengaja senang menangguhkan atau menghambat-hambat pelaksanaan pekerjaan, bersikap keras kepala, sengaja bekerja tidak efisien, dan sebagainya. Beberapa ciri khasnya adalah: tidak suka patuh pada tuntutan orang lain; benci pada figur otoritas, tetapi takut menyatakan atau mengungkapkannya (tidak asertif).
Gangguan-gangguan ini diduga dapat disebabkan oleh faktor bawaan (masih hipotesis); faktor psikososial, seperti pola hubungan keluarga yang patogenik; dan faktor sosiokultural, seperti munculnya sistem nilai dan pola perilaku tertentu yang jauh berbeda dari yang lazim berlaku di masyarakat akibat kondisi kemiskinan. Misalnya, dalam bentuk standar yang sangat longgar tentang kejujuran, tanggung jawab sosial, dan sebagainya.
Penderita aneka jenis gangguan ini biasanya sulit ditangani untuk ditolong. Mereka harus dipaksa. Usaha memberikan pertolongan biasanya lebih efektif bila dilakukan dalam lingkungan tertentu yang membatasi runga gerak penderita, misalnya di penjara atau pusat rehabilitasi lainnya. Penanganan di luar jarang berhasil.









Sumber: 

Duane Schultz; Psikologi Pertumbuhan: Model-model Kepribadian Sehat; 1991 
Ivan Taniputera Dipl.Ing; Sains Modern dan Buddhisme. Menelaah Persamaan Buddhisme dan Sains dalam Bidang Kosmologi, Fisika Kuantum, Biologi, Matematika dan Psikologi; Yayasan Karaniya, Jakarta; 2003.

No comments:

Post a Comment