BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perkembangan
agama Hindu di Indonesia, diungkapkan oleh berbagai sarjana melalui berbagai
teori. Hal ini menimbulkan berbagai kesulitan untuk dapat mengetahuinya secara
pasti karena tidak didapatkannya sumber-sumber tertulis dari jaman itu yang
berasal dari Indonesia sendiri. Menurut penelitian para ahli, secara umum bahwa
masuknya dan berkembangnya kebudayaan agama Hindu dan Buddha di indonesia dari
India ke Indonesia terjadi karena adanya hubungan antara bangsa Indonesia,
India, dan bangsa-bangsa lainnya di kawasan Asia Selatan, Timur, dan
Tenggara.Hubungan tersebut terjadi melalui kegiatan politik dan diplomasi, pelayaran
dan perdagangan, pendidikan, dan kebudayaan. Melalui lalu lintas tersebut, terjadi
pertukaran barang, pengalaman, dan kemudian kontak kebudayaan yang menyebar
secara perlahan-lahan dari daerah pesisir hingga sampai masalah agama dengan
mendirikan kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia.
Pengaruh agama Hindu secara jelas
dapat diketahui sekitar tahun 400M, dengan didapatkannya batu bertulis dalam
bentuk Yupa ditepi sungai Mahakam Kalimantan Timur, menyebutkan tentang
kerajaan Kutai. Yupa disebut berupa tiang batu korban yang dipergunakan untuk
mengikatkan binatang korban saat dilaksanakan upacara. Dari isi Yupa tersebut
memberi bukti-bukti kehinduan yang tertua di Indonesia. Yupa itu mempergunakan
huruf Pallawa, bahasa Sansekerta. Keterangan-keterangan yang dilukiskan pada
Yupa itu ditinjau dari segi religi menunjukan Siwaistis dengan Waprakewara pada
isi Yupa yang ketiga dari 7 buah Yupa yang ditemukan. Waprakeswara berarti satu
tempat suci yang berhubungan dengan Dewa Iswara (nama lain dari Dewa Siwa). Dan
yupa yang lain, juga dapat diketahui bahwa agama yang dianut di Kutai adalah
agama Brahma, yaitu dengan jenis hadiah yang diberikan oleh raja Mulawarman
kepada para pendeta di tempat suci Yupa.
B. RUMUSAN MASALAH
Penulis menarik beberapa rumusan masalah yang dapat membantu agar lebih
mudah dalam memahami isi daripada makalah ini. Rumusan-rumusan makalah tersebut
sebagai berikut:
1.
Masuk Dan Berkembangannya Agama Hindu Serta
2.
Misionaris Agama Hindu Di Indonesia.
C. TUJUAN
Dalam setiap penulisan karya ilmiah selalu memiliki tujuan-tujuan
yang ingin dicapai, begitu
juga dalam penulisan makalah ini. Tujuan-tujuan yang ingin dicapai adalah
sebagai berikut:
1.
Mengetahui Sejarah masuknya dan berkambnagnya Agama
Hindu di Indonesia
2.
Mengetahui Misionaris Agama Hindu di Indonesia
BAB II
PENBAHASAN
A. MASUK DAN BERKEMBANGNYA AGAMA HINDU DI INDONESIA
Benua Asia
terdapat dua Negara besar yang tingkat peradabannya dianggap sudah tinggi,
yaitu India dan Cina. Kedua negara ini menjalin hubungan ekonomi dan
perdagangan yang baik dan berlangsung sejak sekitar abad ke-5 M. Arus lalu
lintas perdagangan dan pelayaran berlangsung melalui jalan darat dan laut.
Salah satu jalur lalu lintas laut yang dilewati India-Cina adalah Selat Malaka.
Indonesia yang terletak di jalur posisi silang dua Benua dan dua Samudera,
serta berada di dekat Selat Malaka memiliki keuntungan, yaitu:
1.
Sering dikunjungi bangsa-bangsa asing, seperti India,
Cina, Arab, dan Persia,
2.
Kesempatan melakukan hubungan perdagangan
Internasional terbuka lebar,
3.
Pergaulan dengan bangsa-bangsa lain semakin luas, dan
4.
Pengaruh kebudayaan asing masuk ke Indonesia, seperti Hindu-Budha.
Keterlibatan
bangsa Indonesia dalam kegiatan perdagangan dan pelayaran internasional menyebabkan
timbulnya percampuran budaya. India merupakan negara pertama yang memberikan pengaruh
kepada Indonesia, yaitu dalam bentukbudaya Hindu.
Ada beberapa teori yang
menjelaskan masuknya kebudayaan Hindu ke Indonesia sebagai berikut.
1. Teori Ksatria
Teori ini dikemukakan oleh Prof. Dr.
J.I. Moens yang mengungkapkan bahwa Indonesia pernah mengalami penjajahan
bangsa India dan yang menaklukkannya adalah golongan ksatria. Karena itu,
melalui proses penjajahan tersebut, budaya Hindu masuk ke Indonesia.
2. Teori Waisya
Teori ini dikemukakan oleh N.J. Krom
yang mengungkapkan bahwa golongan pedagang memiliki peranan dalam menyebarkan
kebudayaan India di Indonesia melalui perkawinan antara pedagang dan wanita
Indonesia.
3. Teori Brahmana
Teori ini dikemukakan oleh Van Leur
sebagai reaksi terhadap teori Ksatria dan Waisya. Menurut teori
ini mengungkapkan bahwa kaum brahmana amat berperan dalam upaya penyebaran
budaya Hindu di Indonesia. Para brahmana mendapat undangan dari penguasa
Indonesia untuk menobatkan raja dan memimpin upacara-upacara keagamaan.
4. Teori Arus Balik
Teori ini dikemukakan oleh F.D.K.
Bosch bahwa banyak orang Indonesia yang sengaja datang ke India untuk berziarah
dan belajar agama Hindu. Setelah kembali ke Indonesia, mereka menyebarkan agama
tersebut. Agama Hindu merupakan agama yang pertama kali masuk ke wilayah
Indonesia.
Berdasarkan bukti-bukti sejarah
diperoleh informasi bahwa masuknya Hindu ke Indonesia pada abad ke-5 M. Di
antara buktinya diperoleh dari prasasti Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur dan
Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat.
Hal tersebut menandakan bahwa
pengaruh agama Hindu mulai menyebar dan dipakai di wilayah Indonesia.
Berdasarkan
peranan bangsa Indonesia dalam penyebaran agama Hindu dan Buddha maka terdapat
dua sikap, yaitu bersikap pasif dan bersikap aktif. F.D.K. Bosch menyebutnya
sebagai hipotesa arus balik. Adapun penjelasannya sebagai berikut;
1. Bangsa
Indonesia Bersikap Pasif
Pihak yang dianggap sebagai penyebar
kebudayaan Hindu-Buddha ke Indonesia adalah kaum Brahmana dari India. Alasannya
pengaruh budaya India yang berkembang di Indonesia memperlihatkan unsur-unsur
brahmana. Misalnya, prasasti dan agama Hindu. Prasasti tersebut ditulis dalam
bahasa Sanskerta dan dengan huruf Pallawa. Padahal bahasa dan tulisan itu hanya
dimengerti oleh kaum brahmana. Selain itu, pengaruh kebudayaan Hindu tampak
jelas pada perkembangan agama Hindu di Indonesia. Urusannya keagamaan merupakan
tanggung jawab kaum Brahmana.
2. Bangsa
Indonesia Bersikap Aktif
Pihak yang berperan sebagai penyebar
kebudayaan Hindu-Buddha ke Indonesia adalah para pedagang dan Brahmana
Indonesia. Para pedagang Indonesia pergi berdagang ke India dan melihat sendiri
keadaan di tempat itu. Mereka tertarik dengan keteraturan masyarakat dan
keunggulan budaya India. Terdorong untuk memajukan negrinya di Indonesia, maka
para pedagang tersebut mengundang brahmana ini ke Indonesia untuk
memperkenalkan kebudayaan Hindu-Buddha.
Kedatangan para brahmana India ke
Indonesia lama-kelamaan menimbulkan kelompok masyarakat baru. Brahmana India
pun membina para brahmana Indonesia. Selanjutnya, para brahmana Indonesia pergi
berziarah, para Brahmana itu juga memperdalam ilmu pengetahuan mereka. Setelah
dirasa cukup maka mereka kembali ke Indonesia dan mulai menyebarkan sesuai
dengan kondisi bangsa Indonesia. Dengan cara-cara seperti itu maka budaya
Hindu-Buddha masuk dan diterima oleh bangsa Indonesia.
Jadi, hubungan dagang telah
menyebabkan terjadinya proses masuknya penganut Hindu ke Indonesia.
Masuknya
kebudayaan Hindu tidak begitu saja diterima oleh bangsa Indonesia, melainkan
tetap mengalami seleksi. Hal itu disebabkan bangsa Indonesia sendiri pada saat
itu juga telah memiliki kebudayaan sendiri yang juga telah berkembang. Selain
itu, ada beberapa penyebab unsur budaya Hindu-Buddha dapat diterima masyarakat
Indonesia, antara lain sebagai berikut;
1. Masyarakat
Indonesia memiliki dasar-dasar kebudayaan yang cukup tinggi sehingga masuknya
budaya asing di Indonesia menambah perbendaharaan dan saling mengisi dengan
budaya Indonesia.
2. Kecakapan
khusus bangsa Indonesia disebut dengan local genius, yaitu kecakapan
suatu bangsa dalam menerima unsur-unsur kebudayaan asing dan mengolah
unsur-unsur tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.
Masuknya
kebudayaan Hindu-Buddha ke Indonesia menimbulkan akulturasi kebudayaan dengan
kebudayaan bangsa Indonesia.
Adapun wujud akulturasi itu ,
seperti berikut;
1. Bahasa
Wujud akulturasi dalam bidang
bahasa, dapat dilihat dari adanya penggunaan bahasa Sanskerta yang dapat
ditemukan sampai sekarang di mana bahasa Sanskerta memperkaya perbendaharaan
bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Sanskerta pada awalnya banyak ditemukan
pada prasasti (batu tertulis) peninggalan kerajaan Hindu-Buddha (5-7M)
contohnya prasasti Yupa dari Kutai, prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara.
Pada perkembangan selanjutnya bahasa Sanskerta digantikan oleh bahasa Melayu
Kuno seperti yang ditemukan pada prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya
(7-13M).
2. Religi/Kepercayaan
Sistem kepercayaan yang berkembang
di Indonesia sebelum agama Hindu-Buddha masuk ke Indonesia adalah kepercayaan
yang berdasarkan pada animisme dan dinamisme.
Agama Hindu dan Buddha yang
berkembang di Indonesia sudah mengalami perpaduan dengan kepercayaan animisme
dan dinamisme, atau dengan kata lain mengalami sinkritisme (bagian dari proses
akulturasi yang berarti perpaduan dua kepercayaan yang berbeda menjadi satu).
Itu sebabnya agama Hindu dan Buddha yang berkembang di Indonesia, berbeda
dengan agama Hindu –Buddha yang dianut oleh masyarakat India.
Perbedaan-perbedaan tersebut dapat dilihat dalam upacara ritual yang diadakan
oleh umat Hindu atau Buddha yang ada di Indonesia. Contohnya; upacara Nyepi
yang dilaksanakan oleh umat Hindu Bali, ternyata upacara tersebut tidak
dilaksanakan oleh umat Hindu di India.
3. Organisasi
Sosial Kemasyarakatan
Wujud akulturasi dalam bidang
organisasi sosial kemasyarakatan dapat dilihat dalam organisasi politik, yaitu
sistem pemerintahan yang berkembang di Indonesia setelah masuknya pengaruh
India. Dengan adanya pengaruh kebudayaan India tersebut maka sIstem pemerintah
yang berkembang di Indonesia adalah bentuk kerajaan yang diperintah oleh
seorang raja secara turun-temurun.
Raja di Indonesia ada yang dipuja
sebagai dewa atau dianggap keturunan dewa keramat sehingga rakyat sangat memuja
raja tersebut. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya raja-raja yang memerintah
Singasari, seperti Kertanegara diwujudkan sebagai Bairawa, dan Raden Wijaya
Raja Majapahit diwujudkan sebagai Harihara (Dewa Syiwa dan Wisnu jadi satu).
Pemerintahan seorang raja di
Indonesia ada yang bersifat mutlak dan turun-temurun seperti di India dan ada
juga yang menerapkan prinsip musyawarah. Prinsip musyawarah diterapkan terutama
apabila raja tidak mempunyai putra mahkota seperti yang terjadi di
kerajaan majapahit, pada waktu pengangkatan Wikramawardana. Wujud akulturasi
disamping terlihat alam sistem pemerintahan juga terlihat dalam sistem kemasyarakatan,
yaitu pembagian lapisan masyarakat berdasarkan sistem kasta.
Sistem kasta menurut kepercayaan
hindu terdiri atas kasta Brahmana (golongan pendeta), kasta Kesatria
(golongan prajurit dan bangsawan), kasta Waisya (golongan pedagang), dan
kasta Sudra (golongan rakyat jelata).
Kasta-kasta tersebut juga berlaku
atau dipercayai oleh umat Hindu Indonesia, tetapi tidak sama persis dengan
kasta-kasta yang ada di India. Hal itu dikarenakan kasta India benar-benar
diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, sedangkan di Indonesia tidak
demikian. Di Indonesia kasta hanya diterapkan untuk upacara keagamaan.
4. Sistem
Pengetahuan
Wujud akulturasi dalam bidang
pengetahuan, salah satunya, yaitu perhitunganwaktu berdasarkan kalender tahun
Saka, yaitu tahun dalam kepercayaan Hindu. Menurut perhitungan, satu tahun Saka
sama dengan 365 hari dan perbedaan tahun Saka dan tahun Masehi adalah 78 tahun.
Sebagai contoh tahun Saka 654 maka tahun Msehinya 654 + 78 = 732 M.
Disamping adanya pengetahuan tentang
kalender Saka, juga ditemukan perhitungan tahun Saka dengan menggunakan candrasangkala.
Candrasangkala adalah susunan kalimat atau gambar yang dapat dibaca sebagai
angka. Candrasangkala banyak ditemukan dalam prasasti yang ditemukan di Pulau
Jawa dan menggunakan kalimat bahasa Jawa. Salah satu contohnya yaitu kalimat Sirna
ilang kertaning bhumi apabila diartikan sirna = 0, ilang
= 0, kertaning = 4, dan bhumi = 1 maka kalimat tersebut diartikan
dari belakang, yaitu sama dengan tahun 1400 Saka atau sama dengan 1478 M yang merupakan
tahun runtuhnya Majapahit.
5. Peralatan
Hidup dan Teknologi
Salah satu wujud akulturasi dari
peralatan hidup dan teknologi terlihat dalam seni bangunan candi. Seni bangunan
candi tersebut memang mengandung unsur budaya India, tetapi keberadaan candi-candi
di Indonesia tidak sama dengan candi-candi yang ada di India karena candi di
Indonesia hanya mengambil unsur teknologi pembuatannya melalui dasar-dasar
teoritis yang tercantum dalam kitab Silpasastra, yaitu sebuah kitab
pegangan yang memuat berbagai petunjuk untuk melaksanakan pembuatan arca dan
bangunan.
Untuk itu, dilihat dari bentuk dasar
maupun fungsi candi tersebut terdapat perbedaan. Bentuk dasar bangunan candi di
Indonesia punden berundak-undak yang merupakan salah satu peninggalan
kebudayaan Megalithikum dan berfungsi sebagai tempat pemujaan. Adapun
fungsi bangunan candi itu sendiri di Indonesia sesuai dengan asal kata “candi”
tersebut. Perkataan “candi” berasal dari kata “candika” yang merupakan salah
satu nama Dewi Durga atau dewi maut sehingga candi merupakan bangunan untuk
memuliakan orang yang telah wafat, khususnya raja-raja dan orang-orang
terkemuka.
Disamping itu dalam bahasa Kawi,
candi berasal dari kata “cinandi” artinya yang dikuburkan. Untuk itu, yang
dikuburkan di dalam candi bukanlah mayat atau abu jenazah melainkan berbagai
macam benda yang yang menyangkut lambang jasmaniah raja yang disimpan dalam pripih.
Dengan demikian, fungsi candi Hindu
di Indonesia adalah untuk pemujaan terhadap roh nenek moyang atau dihubungkan
dengan raja yang sudah meninggal. Hal ini terlihat dari adanya lambang
jasmaniah raja, sedangkan fungsi candi di India adalah untuk tempat pemujaan
terhadap dewa, contohnya seperti candi-candi yang terdapat di kota Benares
merupakan tempat pemujaan terhadap Dewa Syiwa.
Untuk candi yang bercorak Buddha
fungsinya sama dengan di India, yaitu untuk memuja Dyani Bodhisattva yang
dianggap sebagai perwujudan dewa.
Untuk candi Buddha di India hanya
berbentuk stupa, sedangkan di Indonesia stupa merupakan ciri khas atap candi-candi
yang bersifat agama Buddha. Dengan demikian, seni bangunan candi di Indonesia
memiliki kekhasan tersendiri karena Indonesia hanya mengambil intinya saja dari
unsur budaya India sebagai dasar ciptaannya dan hasilnya tetap sesuatu yang
bercorak Indonesia.
6. Kesenian
Wujud akulturasi dalam bidang
kesenian terlihat dalam bidang seni dari seni rupa, seni sastra, dan seni
pertunjukan. Dalam seni rupa contoh wujud akulturasinya dapat dilihat dari
relief dinding candi (gambar timbul), gambar timbul pada candi banyak
menggambarkan suatu kisah/cerita yang berhubungan dengan ajaran agama Hindu
ataupun Buddha.
Gambar relief pada candi Borobudur
ada yang menggambarkan Buddha sedang digoda oleh mara yang menari-nari diiringi
gendang. Relief ini mengisahkan riwayat hidup sang Buddha seperti yang terdapat
dalam kitab Lalitawistara. Demikian pula halnya dengan candi-candi
Hindu. Relief-reliefnya yang juga mengambil kisah yang terdapat dalam
kepercayaan Hindu seperti kisah Ramayana yang digambarkan melalui relief candi
Prambanan ataupun candi Panataran.
Dari relief-relief tersebut apabila
diamati lebih lanjut, ternyata Indonesia juga mengambila kisah asli cerita
tersebut, tetapi suasana kehidupan yang digambarkan oleh relief tersebut adalah
suasana kehidupan asli keadaan alam ataupun masyarakat Indonesia. Dengan
demikian, terbukti bahwa Indonesia tidak menerima begitu saja budaya India,
tetapi selalu berusaha menyesuaikan dengan keadaan dan suasana di Indonesia.
Untuk
wujud akulturasi dalam seni sastra dapat dibuktikan dengan adanya suatu
cerita/kisah yang berkembang di Indonesia yang bersumber dari kitab Ramayana
yang ditulis oleh Walmiki dan kitab Mahabarata yang ditulis oleh Wiyasa. Keduan
kitab tersebut merupakan kitab kepercayaan umat Hindu. Akan tetapi, setelah
berkembang di Indonesia tidak sama seperti aslinya dari India karena sudah
disadur kembali oleh pujangga-pujangga Indonesia ke dalam bahasa Jawa Kuno.
Tokoh-tokoh cerita dalam kisah tersebut ditambah dengan hadirnya tokoh
Punokawan, seperti Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng. Bahkan, dalam kisah
Bharatayudha yang disadur dari kitab Mahabarata tidak menceritakan perang
antara Pendawa dan Kurawa, melainkan menceritakan kemenangan Jayabaya dari
Kediri melawan Jenggala.
Disamping itu juga kisah Ramayana
ataupun Mahabarata diambil sebagai suatu cerita dalam seni pertunjukan di
Indonesia, yaitu salah satunya pertunjukan wayang. Seni petunjukan wayang
merupakan salah satu kebudayaan asli Indonesia sejak zaman prasejarah dan
pertunjukan wayang tersebut sangat digemari terutama oleh masyarakat
Jawa. Wujud akulturasi dalam pertunjukan wayang tersebut terlihat dari
pengambilan lakon cerita dari kisah Ramayana ataupun Mahabarata yang berasal
dari budaya India, tetapi tidak sama persis dengan aslinya karena sudah mengalami
perubahan. Perubahan tersebut antara lain terletak dari karakter atau perilaku
tokoh-tokoh cerita, misalnya dalam kisah Mahabarata keberadaan tokoh durna,
dalam cerita aslinya durna adalah seorang mahaguru bagi Pendawa dan Kurawa dan
berprilaku baik, tetapi dalam lakon Indonesia durna adalah tokoh yang
berperangai buruk suka menghasut.
Daerah
yang dipengaruhi dan tidak di pengaruhi unsur hindu-buddha di Indonesia sampai
abad XIV. Masuknya unsur Hindu-Buddha ke Indonesia berlangsung dengan damai,
bertahap, dan berkelanjutan. Hampir semua wilayah Indonesia menerima pengaruh
Agama Hindu, kecuali wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.
Ø Wilayah yang
dipengaruhi unsur-unsur Hindu di Indonesia
Kemunculan
unsur Hindu di Indonesia diduga pada sekitar abad Ke-5M. Tonggak waktu tesebut
diambil dari penafsiran tujuh buah yupa peninggalan kerajaan Kutai di
Kalimantan timur dan tujuh buah prasasti dari kerajaan Tarumanegara di Jawa
Barat sekarang ini. Oleh karena Yupa dan Prasasti di kedua kerajaan tersebut
menggunakan huruf pallawa, maka diperkirakan kebudayaan Hindu yang menyebar ke
beberapa daerah di Indonesia pada tahap permulaan berasal dari India Selatan.
Agama dan kebudayaan Hindu di Indonesia kemudian berkembang di
kerajaan-kerajaan, seperti kerajaan Holling, Mataram Hindu, Kanjuruhan, Kediri,
Singasari, Majapahit, Sunda, dan Bali.
B. MISIONARIS AGAMA HINDU DI INDONESIA
Di dalam sejarah penyebaran Agama
Hindu, Rsi Agastya adalah sangat terkenal jasa-jasanya dalam penyebaran agama
Hindu di Indonesia. Menurut Pustaka Purana dan Mahabharata, Rsi Agastya lahir
di Kasi (Benares) sebagai penganut Siwa yang taat. Rsi Agastya merupakan
sebagai pemegang obor dan memberi penerangan suci ke seluru pelosok. Rsi
Agastya meninggalkan kota Kasi menuju ke selatan sebagai Dharmaduta menyebarkan
Agama Hindu. Di India Selatan, Rsi Agastya dapat menaklukkan para Asura dan
oleh karena ajaran-ajaran Dharmanya dapat menjadikan Daerah Selatan tempat
perkembangannya Dharma. Kemuliaan nama Rsi Agastya menyebar luas sampai ke
India Belakang dan Indonesia sebagai penyebar agama Hindu. Di India Belakang
nama Rsi Agastya disebut dalam prasasti-prasasti.
Di
Indonesia dengan jelas disebut dalam prasasti Dinaya. Di Jawa Timur pada abad
ke 8 dibuatkan pelinggih untuk Rsi Agastya. Oleh karena kebesaran dan kesucian
Maha Rsi Agastya, maka juga disebut Bhatara Guru sebagai perwujudan Siwa di
dunia mengajarkan Dharma. Di dalam sejarah agama Hindu di Indonesia, Maha Rsi
Agastya disucikan namanya dalam prasasti-prasasti dan kesusastraaan-kesusastraan
kuno. Yang terdahulu sekali menyebut nama beliau ialah prasasti Dinaya di Jawa
Timur tahun Saka 682 di mana seorang Raja bernana Gajayana membuat pura suci
yang sangat indah untuk Maha Rsi Agastya dengan maksud untuk memohon kekuatan
suci untuk mengatasi kekuatan yang gelap. Juga di Porong (Jawa Tengah).
Prasasti tahun Saka 785 menyebutkan bahwa “Selama matahari dan bulan ada di
cakrawala dan selama dunia ini dikelilingi oleh empat Samudra, selama dunia ini
dipenuhi oleh hawan, selama itu ada kepercayaan kepada Maha Rsi Agastya.”
Di Bali didapatkan pemuliaan nama
Rsi Agastya sebagai saksi dan penguat sumpah-sumpah (Harichandana). Pemuliaan
terhadap Bhatara Guru yaitu Maha Rsi Agastya tidak hanya terbatas pada Bali,
Jawa dan Lombok saja tetapi juga di Sulawesi bagian Selatan, Kalimantan dan
lain-lainnya. Mengingat usaha-usahanya dalam Dharmayatra ini maka banyak
istilah-istilah yang diberikan kepada Maha Rsi Agastya di antaranya;
a. Agastya
Yatra, artinya perjalanan suci yang tak mengenal kembali dalam pengabdiannya
untuk Dharma.
b. Pita
Sagara, artinya Bapak dari Lautan, karena mengarungi lautan-lautan yang luas
demi untuk Dharma.
Dalama perkembangan agama Hindu kedatangan
seorang Rsi ke Bali yang bernama Maharsi Markandeya. Menurut sumber – sumber
berupa lontar, sastra, dan purana, Maharsi Markandeya berasal dari India.
Seperti dinyatakan sebagai berikut dalam Markandeya Purana, “Sang Yogi
Markandeya kawit hana saking Hindu” yang artinya “sang yogi Markandeya asal
mulanya adalah dari India”.
Namun dari data-data
yang di dapatkan nama Markandeya bukan nama perorarangan, melainkan adalah nama
perguruan atau nama pasraman seperti halnya juga nama Agastya. Perguruan atau
pasraman adalah lembaga yang mempelajari dan mengembangkan ajaran-ajaran dari
guru-guru sebelumnya. Kebiasaan secara tradisi yang diturunkan dari generasi ke
generasi untuk melanjutkan tradisi dari guru sebelumnya, yaitu dari guru ke
murid dan seterusnya. Garis perguruan turun temurun ini di sebut Parampara, dan
tiap-tiap parampara menyusun pokok-pokok ajarannya, dari parampara yang telah
mengangkat guru dan murid untuk melanjutkan garis perguruan ini dinamakan
Sampradaya. Dari tiap-tiap sampradaya menyusun pokok-pokok ajarannya dari
sumber-sumber yaitu, Catur Weda, Purana, Upanisad, Wedanta Sutra, dan Itihasa.
Walaupun memiliki pandangan yang berbeda, namun mereka mengambilnya dari Weda
dengan tradisi turun-temurun yang sama dalam menafsirkan dan mengajarkan
pokok-pokok ajaran di dalam Weda. Demikian akhirnya, pustaka-pustaka suci
tersebut disebarkan, dimana di antaranya adalah Markandeya Purana, Garuda
Purana, Siva Purana, Vayu purana, Visnu Purana dan lain sebagainya. Bahkan dari
tiap generasi ke generasi terdapat nama diksa (inisiasi) yang sama dengan nama
pendahulunya. Jadi sang Maharsi Markandeya adalah seorang rsi dari garis
perguruan yang namanya sama dengan nama pendahulunya di India, beliau datang ke
Indonesia untuk menyebarkan agama Hindu, terutama paham Waisnava (pemuja
Wisnu).
Ketika tiba di
Indonesia, Maharsi Markandeya berasrama di wilayah Pegunungan Dieng, Jawa
Tengah. Lalu beliau ber-dharmayatra ke arah timur, dan tibalah di Gunung Raung,
Jawa Timur. Disini Maharsi Markandeya membuka pasraman dimana beliau di
dampingi oleh murid-murid Maharsi Markandeya yang di sebut Wong Aga (orang-orang
pilihan). Beberapa tahun kemudian Maharsi Markandeya melanjutkan perjalanan ke
timur, tepatnya ke pulau Bali yang ketika itu masih kosong secara spiritual.
Disamping untuk mengajarkan agama Hindu, beliau juga ingin mengajarkan
teknik-teknik pertanian secara teratur, bendungan atau sistem irigasi,
peralatan untuk yajna dan lain-lain. Perjalanan Maharsi Markandeya diiringi
oleh 800 orang murid-muridnya.
Saat datang
pertama kali ke Bali, beliau datang ke Gunung Tohlangkir. Disana Maharsi
Markandeya dan murid-muridnya merabas hutan untuk lahan pertanian, tetapi
sayangnya banyak murid-muridnya terkena penyakit aneh tanpa sebab, ada juga
yang meninggal diterkam binatang buas seperti mranggi (macan), ada yang hilang
tanpa jejak, bahkan ada yang gila. Melihat keadaan demikian, Maharsi Markandeya
memutuskan untuk kembali ke Gunung Raung, lalu Maharsi Markandeya beryoga untuk
mengetahui bencana yang menimpa murid-muridnya ketika ke Bali. Akhirnya Maharsi
Markandeya mendapatkan petunjuk bahwa terjadinye bencana tersebut adalah karena
Maharsi Markandeya tidak melaksanakan yajna sebelum membuka hutan itu.
Setelah
mendapatkan petunjuk, Maharsi Markandeya kembali lagi datang ke Bali tepatnya
ke Gunung Tohlangkir. Kali ini beliau hanya mengajak 400 orang muridnya. Tapi
sebelum merabas hutandan kembali mengambil pekerjaan sebelumnya, Maharsi
Markandeya melakukan upacara ritual, berupa yajna, agni hotra, dan menanam
panca datu di lereng Gunung Tohlangkir, Nyomia, dan upacara Waliksumpah untuk
menyucikan dan mengharmoniskan tempat tersebut. Demikianlah akhirnya semua
pengikut Maharsi Markandeya selamat tanpa kurang satu apapun. Oleh karena itu,
Maharsi Markandeya kemudian menamakan wilayah tersebut dengan nama Wasuki,
kemudian berkembang menjadi nama Basukian dan dalam perkembangan selanjutnya
orang-orang menyebut tempat ini dengan nama Basuki yang artinya keselamatan.
Hingga saat ini, tempat ini dikenal dengan nama Besakih dan tempat beliau
menaman panca datu akhirnya di dirikan sebuah pura yang diberi nama Pura
Besakih. Dan Maharsi Markandeya mengganti nama Gunung Tohlangkir dengan nama
Gunung Agung. Tidak hanyaitu saja, Maharsi Markandeyaakhirnya menamakan pulau
ini dengan nama Wali yang berarti persembahan atau korban suci, dan dikemudian
hari dikenal dengan nama Bali Dwipa atau sekarang dikenal dengan nama Bali,
dimana semua akan selamat dan sejahtera dengan melaksanakan persembahan yajna
atau korban suci. Setelah beberapa tahun lamanya beliau akhirnya menuju arah
barat untuk melanjutkan perjalanan dan sampai di suatu daerah datar dan luas,
sekaligus hutan yang sangat lebat. Disanalah beliau dan murid-muridnya merebas
hutan. Wilayah yang datar dan luas itu dinamakan Puwakan, kemudian dari kata
puakan berubah menjadi Kasuwakan, lalu menjadi Suwakan dan akhirnya menjadi Subak.
Di tempat ini
beliau menanam berbagai jenis pangan dan semuanya bisa tumbuh dengan subur dan
menghasilkan dengan baik. Oleh karenanya tempat ini di namakan Sarwada yang
artinya serba ada. Karena keadaan ini dapat terjadi karena kehendak Tuhan lewat
perantara sang maharsi. Kehendak bahasa Balinya kahyun, kayu bahasa
sansekertanya taru, kemudian dari kata taru tempat ini dikenal dengan nama Taro
dikemudian hari, yang terletak di kabupaten Gianyar. Di wilayah ini Maharsi
Markandeya mendirikan pura sebagai kenangan terhadap pasramannya di gunung
raung. Pura ini dinamakan Pura Gunung Raung, bahkan hingga saat ini di bukit
tempat beliau beryoga juga di dirikan sebuah pura yang kemudian dinamakan Pura
Luhur Payogan, yang letaknya di Campuan, Ubud. Pura ini juga disebut pura
Gunung Lebah. Selanjutnya Mahasri Markandeya pergi ke arah barat dari arah
Payogan dan kemudian membangun sebuah pura yang diberi nama Pura Murwa,
sedangkan wilayahnya dan sebagainya di beri nama Parahyangan kemudian
orang-orang menyebutnya dengan sebutan Pahyangan. Dan sekarang tempat tersebut
dikenal dengan Payangan.
Orang-orang Aga,
murid-murid maha rsi markandeya menetap di desa-desa yang dilalui oleh beliau,
mereka membaur dengan orang-orang Bali mula, bertani dan bercocok tanam dengan
cara yang sangat teratur, menyelenggarakan yajna seperti yang di ajarkan oleh
Maharsi Markanadeya. Dengan cara demikian terjadilah pembauran orang-orang Bali
mula dan orang-orang Aga, kemudian dari pembauran ini merekadikenal dengan nama
Bali Aga yang berarti pembauran penduduk bali mula dengan orang-orang aga,
murid Maharsi Markandeya, dengan adanya hal ini, maka Hindu dapat diterima
dengan baik oleh orang-orang Bali mula ketika itu. Sebagai rohaniawan (pandita)
orang-orang Bali Aga dimana Maharsi Markandeya menjadi pendirinya, maka
orang-orang Bali Aga dikenal dengan nama Warga Bhujangga Waisnava.
Dalam jaman
kerajaan Bali, terutama zaman Dinasti Warmadewa. Warga Bhujangga Waisnsava
selalu menjadi purohito (pendeta utama kerajaan) yang mendampingi raja, antara
lain Mpu Gawaksa yang dinobatkan oleh sang ratu Sri Adnyadewi tahun 1016 M,
sebagai pengganti Mpu Kuturan. Ratu Sri Adnyadewi pula yang memberikan wewenang
kepada sang guru dari Warga Bhujangga Waisnava untuk melaksanakan upacara
Waliksumpah ke atas, karena beliau mampu membersihkan segala noda di bumi ini,
bahkan sang ratu mengeluarkan bhisama kepada seluruh rakyatnya yang berbunyi :
“Kalau ada Rsi atau wiku yang meminta-minta, peminta tersebut sama dengan
pertapa, jika tidak ada orang yang memberikan derma kepada petapa itu, bunuhlah
dia dan seluruh miliknya harus diserahkan kepada pasraman. Dan apa bila terjadi
kekeruhan di kerajaan dan di dunia, harus mengadakan upacara Tawur,
Waliksumpah, Prayascita (menyucikan orang-orang yang berdosa), Nujum, orang-orang
yang mengamalkan ilmu hitam haruslah sang guru Bhujangga Waisnava yang
menyucikannya, sebab sang guru Bhujangga Waisnava seperti angin, bagaikan Bima
dan Hanoman, itu sebabnya juga sang guru Bhujangga Waisnava berkewajiban
menyucikan desa, termasuk hutan, lapangan, jurang. Oleh karena sang guru
Bhujangga Waisnava sebaik Bhatara Guru, boleh menggunakan segala-galanya dan
dapat melenyapkan hukuman”.
Kemudian pada
masa pemerintahan Sri Raghajaya tahun 1077 M yang diangkat menjadi purohito
kerajaan adalah Mpu Andonamenang dari keluarga Bhujangga Vaisnava. Lalu Mpu
Atuk di masa pemerintahan raja Sri Sakala Indukirana tahun 1098 M, kemudian Mpu
Ceken pada masa pemerintahan raja Sri Suradipha tahun 1115 – 1119 M, kemudian
Mpu Jagathita pada masa pemerintahan Sri Jayapangus tahun 1148 M. Untuk
raja-raja selanjutnya selalu ada seorang purohito raja yang diambil dari
keluarga Bhujangga Waisnava dan seterusnya hingga masa pemerintahan Sri Dalem
Waturenggong di Bali. Saat itu yang menjadi purohito adalah dari griya Takmung
dimana beliau melakukan kesalahan selalu acharya kerajaan yang telah mengawini
Dewi Ayu Laksmi yang tidak lain adalah putri Dalem sendiri selaku sisyanya.
Atas kesalahannya ini sang guru Bhujangga akan dihukum mati, tapi beliau segera
menghilang dan kemudian menetap di daerah Buruan dan Jatiluwih, Tabanan.
Semenjak
kejadian tersebut, dalem tidak lagi memakai purohito dari Bhujangga Waisnava.
Sejak itu dan setelah kedatangan Danghyang Nirartha di Bali, posisi purohito di
ambil alih oleh Brahmana Siwa dan Budha. Bahkan setelah strukturisasi
masyarakat Bali ke dalam sistem wangsa oleh Danghyang Nirartha atas persetujuan
Dalem, keluarga Bhujanggga Waisnava tidak dimasukkan lagi sebagai warga
brahmana. Namun peninggalan kebesaran Bhujangga Waisnava dalam perannya sebagai
pembimbing awal masyarakat Bali, terutama dari kalangan Bali Mula dan Bali Aga
masih terlihat sampai sekarang. Pada tiap-tiap pura dari masyarakat Bali Aga,
selalu ada sebuah pelinggih sebagai sthanaBhatara Sakti Bhujangga. Alat-alat pemujaan
selalu siap pada pelinggih itu. Orang-orang Bali Aga/Mula cukup nuhur tirtha,
tirtha apa saja, terutama tirta pengentas adalah melalui pelinggih ini. Sampai
sekarang para warga ini tidak pernah/berani mempergunakan atau nuhur Pedanda
Siva. Selain itu, para warga ini tidak pernah mempersembahkan sesajen dari
daging ketika diadakan pujawali dan biasanya mereka menggunakan daun kelasih
sebagai salah satu sarana persembahan selain bunga, air, api dan buah.
Warga Bhujangga
Waisnava, keturunan Maharsi Markandeya sekarang sudah tersebar di seluruh Bali,
pura pedharmannya ada di sebelah timur penataran agung Besakih di sebelah
tenggara pedharman Dalem. Demikian juga pura-pura kawitannya tersebar di
seluruh Bali, seperti di Takmung, kabupaten Klungkung, Batubulan, kabupaten
Gianyar, Jatiluwih di kabupaten Tabanan dan di beberapa tempat laindi Bali.
Demikianlah
Maharsi Markandeya, leluhur Warga Bhujangga Waisnava penyebar agama Hindu
pertama di Bali dan warganya hingga saat ini ada yang melaksanakan dharma
kawikon dengan gelar Rsi Bhujangga Waisnava. Sedangkan orang-orang Agabeserta
keturunakannya telah membaur dengan orang-orang Bali Mula atau penduduk asli
Bali keturunan Bangsa Austronesia, dan mereka dikenal dengan nama orang-orang
Bali Aga.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Jadi
Masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu dari India ke Indonesia
terjadi karena adanya hubungan antara bangsa Indonesia, India,dan bangsa-bangsa
lainnya di kawasan Asia Selatan ,Timur,dan Tenggara.Hubungan tersebut tidak
hanya terjadi melalui perdagangan tetapi juga terjadi melalui kegiatan politik
dan diplomasi,pelayaran,pendidikan,dan kebudayaan. Melalui lalu lintas
tersebut,terjadi pertukaran barang,pengalaman,dan kebudayaan Hindu. Ada beberapa
teori yang menjelaskan masuknya kebudayaan Hindu ke Indonesia yaitu Teori Kesatria,
Teori Waisya, Teori Brahmana dan Teori Sudra.
Masuknya kebudayaan Hindu ke Indonesia menimbulkan akulturasi. Akulturasi
adalah fenomena yang timbul sebagai hasil jika kelompok-kelompok manusia yang
mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda bertemu dan mengadakan kontak secara
langsung dan terus-menerus yang kemudia menimbulkan perubahan dalam pola
kebudayaan yang original dari salah satu kelompok atau kedua-duanya. Wujud
akulturasi tersebut yaitu, bahasa, religi/kepercayaan, organisasi sosial
kemasyarakatan, sistem pengetahuan, peralatan hidup dan teknologi, dan
kesenian.
Di
dalam sejarah penyebaran Agama Hindu, Rsi Agastya adalah sangat terkenal jasa-jasanya
dalam penyebaran agama Hindu di Indonesia. Daerah yang dipengaruhi unsur-unsur
Hindu di Indonesia meliputi seluruh Pulau Jawa, Bali, Pulau Sumatra, Kutai
(Kalimantan Selatan), Sanggau (Kalimantan Barat), dan Sempaga (Sulawesi
Selatan). Daerah yang tidak dipengaruhi budaya Hindu adalah wilayah Nusa
Tenggara, Maluku, Papua dan sekitarnya. Kemungkinan penyebab tidak masuknya
pengaruh tersebut karena wilayah Indonesia bagian timur dianggap terlalu jauh
untuk dijangkau, wilayahnya sangat terpencil dan sarana transportasi tidak ada.
Selain itu, kawasan Indonesia amat luas dan terdiri atas ribuan pulau yang
terhampar dari barat sampai ke timur.
DAFTAR PUSTAKA
Tim
penyusun Indonesia Heritage. 1998. Indonesian Heritage: Early Modern History.
Singapore : Grolier International.
Chau
Ming. 1994. Mengenal Beberapa Aspek Filsafat Konfusianisme, taoisme, dan
Buddhisme, JILID III. Jakarta:Sasana
Rickflefs,
M. C. 1998. Sejarah Indonesia Modern. Yogyaarta : Gajah Mada university
Press.
I
Gede Agus Suprapto.
http://narayanasmrti.com/tradisi/maha-rsi-markandeya-dan-orang-bali-aga/
No comments:
Post a Comment